Wednesday, January 18, 2012
Farmakognosi Jantung Farmasi Bahan Alam
Saturday, August 13, 2011
Simplisia
2.1 Tinjauan Tentang Simplisia
2.1.1 Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bentuk jamak dari simpleks yang berasal dari kata simple, yang berarti satu atau sederhana. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Departemen Kesehatan RI membuat batasan tentang simplisia sebagai berikut: simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan (Gunawan, 2004: 9).
Secara umum pemberian nama atau penyebutan simplisia didasarkan atas gabungan nama spesies diikuti dengan nama bagian tanaman. Sebagai contoh, merica dengan nama spesies Piperis albi maka nama simplisianya disebut Piperis albi fructus. Fructus menunjukkan nama bagian tanaman yang digunakan yaitu buahnya (Gunawan, 2004: 9).
Perlu juga diketahui bahwa banyak buku-buku teks yang tidak menganut sistem penyebutan simplisia yang telah disebutkan seperti contoh berikut ini:
· Calami Rhizoma: menunjukkan penyebutan nama berdasarkan nama belakang dari spesies Acirus calamus (dlingo) yang diikuti dengan nama bagian yang digunakan
(Rhizoma = rimpang).
· Brugmansia folia: nama genus dari Brugmansia candida diikuti folia = daun
· Oleum Arachidis: minyak kacang (Arachis hypogea) tanpa nama bagian tanaman
· Lycopodium: nama spora, hanya ditulis Lycopodium saja
· Chinae Cortex: menggunakan nama daerah, dari tanaman Cinchona succirubra. Nama daerahnya chinae (kina)
Berikut nama-nama latin dari bagian tanaman yang digunakan dalam tatanama simplisia
| Nama Latin | Bagian Tanaman |
| Semen | Biji |
| Radix | Akar |
| Rhizoma | Rimpang |
| Bulbus | Umbi lapis |
| Tubera | Ubi |
| Flos | Bunga |
| Fructus | Buah |
| Lignum | Kayu |
| Cortex | Kulit kayu |
| Caulis | Batang |
| Folia | Daun |
| Herba | Seluruh bagian tanaman |
| Amylum | Pati |
| Thallus | Bagian dari tanaman rendah |
Tabel 2.1 Nama Latin Dari Bagian Tanaman Yang Digunakan Dalam Tatanama Simplisia
2.1.2 Penggolongan Simplisia
Simplisia terbagi 3 golongan yaitu :
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman. Eskudat tanaman ialah isi yang spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dikeluarkan dari selnya, dengan cara tertentu atau zat yang dipisahkan dari tanamannya dengan cara tertentu yang masih belum berupa zat kimia murni.
2. Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
3. Simplisia mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelikan (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
2.1.3 Cara Pembuatan Simplisia
Pembuatan simplisia merupakan proses memperoleh simplisia dari alam yang baik dan memenuhi syarat-syarat mutu yang dikehendaki. Dasar pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan(Gunawan, 2004: 9).
1. Teknik pengumpulan
Pengumpulan atau panen dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat (mesin). Apabila pengambilan dilakukan secara langsung (pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si pemetik, agar diperoleh tanaman/bagian tanaman yang dikehendaki, misalnya dikehendaki daun yang muda, maka daun yang tua jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman lainnya. misalnya jangan menggunakan alat yang terbuat dari logam untuk simplisia yang mengandung senyawa fenol dan glikosa.
Waktu Pengumpulan Atau Panen
Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen, umur tanaman, bagian tanaman yang diambil dan lingkungan tempat tumbuhnya. Pada umumnya waktu pengumpulan sebagai berikut :
1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak, contohnya, daun Athropa belladonna mencapai kadar alkaloid tertinggi pada pucuk tanaman saat mulai berbunga. Tanaman yang berfotosintesis diambil daunnya saat reaksi fotosintesis sempurna yaitu pukul 09.00-12.00.
2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
3. Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum buah masak.
4. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
5. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus), dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhannya berhenti.
Cara pengambilan bagian tanaman dari pohonnya biasanya menggunakan teknik-teknik tertentu diantaranya:
1. Klika batang/klika/korteks
Klika diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu, sebaliknya dengan cara berselang-seling dan sebelum jaringan kambiumnya, untuk klika yang mengandung minyak atsiri atau senyawa fenol gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam.
2. Batang (caulis)
Batang diambil dari cabang utama sampai leher akar, dipotong-potong dengan panjang dan diameter tertentu.
3. Kayu (Lignum)
Kayu diambil dari batang atau cabang, kelupas kuliltnya dan potong-potong kecil.
4. Daun (Folium)
Daun tua atau muda (daun kelima dari pucuk) dipetik satu persatu secara manual.
5. Bunga (Flos)
Tergantung yang dimaksud, dapat berupa kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga atau daun bunga, dapat dipetik langsung dengan tangan.
6. Akar (Radix)
Bagian yang digunakan adalah bagian yang berada di bawah permukaan tanah, dipotong-potong dengan ukuran tertentu.
7. Rimpang (Rhizoma)
Tanaman dicabut, rimpang diambil dan dibersihkan dari akar, dipotong melintang dengan ketebalan tertentu.
8. Buah (Fructus)
Dapat berupa buah yang masak, matang atau buah muda,
dipetik dengan tangan.
9. Biji (Semen)
Buah yang dikupas kulit buahnya menggunakan tangan atau alat, biji dikumpulkan dan dicuci.
10. Bulbus
Tanaman dicabut, bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan memotongnya.
2. Pencucian dan Sortasi Basah
Pencucian dan sortasi basah dimaksudkan untuk membersihkan simplisia dari benda-benda asing dari luar (tanah, batu dan sebagainya), dan memisahkan bagian tanaman yang tidak dikehendaki. Pencucian dilakukan bagi simplisia utamanya bagian tanaman yang berada di bawah tanah (akar, rimpang), untuk membersihkan simplisia dari sisa-sisa tanah yang melekat.
3. Pengeringan
Tujuan pengeringan pada tanaman atau bagian tanaman adalah :
1. Untuk mendapatkan simplisia yang awet, tidak rusak dan dapat digunakan dalam jangka relatif lama.
2. Mengurangi kadar air, sehingga mencegah terjadinya pembusukan oleh jamur atau bakteri karena terhentinya proses enzimatik dalam jaringan tumbuhan yang selnya telah mati. Agar reaksi enzimatik tidak dapat berlangsung, kadar air yang dianjurkan adalah kurang dari 10 %.
3. Mudah dalam penyimpanan dan mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.
a. Pengeringan alamiah
Tergantung dari kandungan zat aktif simplisia, pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Sinar matahari langsung, terutama pada bagian tanaman yang keras (kayu, kulit biji, biji dan sebagainya) dan mengandung zat aktif yang relatif stabil oleh panas)
2. Diangin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, umumnya untuk simplisia bertekstur lunak (bunga, daun dan lain-lain) dan zat aktif yang dikandungnya tidak stabil oleh panas (minyak atsiri).
b. Pengeringan buatan
Cara pengeringan dengan, menggunakan alat yang dapat diatur suhu, kelembaban, tekanan atau sirkulasi udaranya.
2.1.4 Pemeriksaan Mutu Simplisia
Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pemeriksaan mutu simplisia adalah sebagai berikut:
a. Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI seperti Farmakope Indonesia, Ekstra Farmsakope Indonesia dan Materia Medika Indonesia. Jika tidak tercantum maka harus memenuhi persyaratan seperti yang disebut pada paparannya (monografinya).
b. Tersedia contoh sebagai simplisia pembanding yang setiap periode tertentu harus diperbaharui
c. Harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat yang meliputi:
1) Kurang kering atau mengandung air,
2) Termakan serangga atau hewan lain,
3) Ada-tidaknya pertumbuhan kapang, dan
4) Perubahan warna atau perubahan bau. (Gunawan, 2004: 9)
d. Dilakukan pemeriksaan lengkap yang terdiri atas:
1. Identifikasi meliputi pemeriksaan:
a. Organoleptik, yaitu pemeriksaan warna, bau dan rasa dari bahan simplisia. Dalam buku resmi dinyatakan pemerian yaitu memuat paparan mengenai bentuk dan rasa yang dimaksudka untuk dijadikan petunjuk mengenal simplisia nabati sebagai syarat baku.
Reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyarian zat berkhasiat, terhadap hasil mikrosblimasi atau langsung terhadap irisan atau serbuk simplisia ( Depkes RI, 1979: xiii)
b. Mikroskopik, yaitu membuat uraian mikroskopik paparan mengenai bentuk ukuran, warna dan bidang patahan atau irisan.
c. Mikroskopoik yaitu membuat paparan anatomi penempang melintang simplisia fragmen pengenal serbuk simplisia.
d. Tetapan fisika, melipti pemeriksaan indeks bias, bobot jenis, titik lebur, rotasi optik, mikrosublimasi, dan rekristalisasi.
e. Kimiawai, meliputi reaksi warna, pengendapan, penggaraman, logam, dan kompleks.
f. Biologi, meliputi pemeriksaan mikrobiologi seperti penetapan angka kuman, pencemaran, dan percobaan terhadap hewan.
2. Analisis bahan meliputi penetapan jenis konstituen (Zat kandungan), kadar konstituen (Kadar abu, kadar sari, kadar air, kadar logam), dan standarisasi simplisia.
3. Kemurnian, meliputi kromatografi: kinerja tinggi, lapis tipis, kolom, kertas, dan gas untuk menentukan senyawa atau komponene kimia tunggal dalam simplisia hasil metabolit primer dan sekunder tanaman.
Monday, January 10, 2011
PENGOBATAN ALTERNATIF
Dengan perkembangan baru itu, pemilihan terapi tradisional menjadi lebih jelas antara yang dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai terapi yang sudah diakui dan yang masih terdaftar saja karena belum didukung dengan data penelitian yang akurat. Dalam pengertian itu, pengobatan kompementer adalah pengobatan tradisional yang sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi konvensional yang diberikan dokter, misalnya akupunktur dan hipnosis. Sedangkan terapi alternatif adalah pilihan pengobatan yang tidak dilakukan dokter pada umumnya, tetapi oleh dokter khusus (naturopathy dan homeopathy) dengan pendidikan yang berbeda, atau praktisi yang menguasai keahliannya melalui pendidikan lain (sinshe dan tabib).
PERBEDAAN DENGAN PENGOBATAN KONVENSIONAL
Kebanyakan dari pengobatan alternatif yang terkenal, menggunakan prinsip-prinsip praktik dasar yang berbeda dari prinsip dan praktik dasar pengobatan paliatif yang konvensional. Hal-hal itu adalah:
1. KEMAMPUAN PENYEMBUHAN ALAMI
Pengobatan alternatif ditemukan berdasarkan keyakinan yang mendalam akan kemampuan atau daya penyembuh yang sifatnya alami. Praktisi pengobatan alternatif menganggap sebagai kenyataan, bahwa setiap orang memiliki dalam dirinya kemampuan alami untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Pengobatan konvensional dari waktu ke waktu telah mengecilkan kemampuan alami tersebut dengan berbagai bentuk intervensi secara fisik maupun fisiologis. Contoh yang umum adalah meluasnya penggunaan antibiotik untuk mengatasi penyakit pada anak-anak. Penyembuhan alternatif cenderung akan menggunakan pengobatan yang mendukung atau memperkuat sistem imunitas tubuh mereka dan bukannya menggunakan antibiotik untuk mengatasi infeks.
2. ORIENTASI PADA PASIEN KETIMBANG ORIENTASI PADA DOKTER
Pengobatan konvensional cenderung lebih berorientasi pada dokter, dimana pendapat dan keyakinan sang dokter dianggap lebih penting dibanding pendapat dan keyakinan sang pasien. Di pihak lain, pengobatan alternatif lebih berorientasi pada pasien, dimana perasaan, keyakinan, dan pendapat sang pasien menjadi unsur-unsur yang sangat penting dalam penanganan dan proses pengambilan keputusan. Pengobatan alteratif yang bermutu didasarkan atas apresiasi yang mendalam akan keajaiban dan misteri dari setiap individu sebagai mahluk yang unik.
3. UNTUK MENCAPAI HASIL, PENGOBATAN ALTERNATIF MENGAMBIL WAKTU YANG LEBIH LAMA
Satu tujuan utama pengobatan alternatif adalah untuk merangsang respons penyembuhan alamiah dari tubuh dan membiarkan alam menjalankan pernannya. Untuk alasan inilah laju penyembuhan berjalan lebih lambat dibandingkan sistem konvensional dari penyembuhan paliatif.
4. PENGGUNAAN BAHAN-BAHAN YANG ALAMI DAN UTUH
Banyak penyembuhan alternatif menggunakan bahan-bahan yang alami seperti ramuan dan jamu, bahan-bahan botanikal, homeopatik, suplemen nutrisi, dan makanan yang utuh. Ada keyakinan umum di kalangan dokter-dokter Naturopatik bahwa penggunaan produk-produk utuh atau alami untuk menangani keluhan, hasilnya lebih baik dalam membantu proses penyembuhan dari pada menggunakan bahan-bahan sintetik.
5. STANDAR KESEHATAN YANG LEBIH TINGGI
Praktisi pengobatan konvensional biasanya melihat keadaan “sehat” sebagai “absennya penyakit”. Maka timbul filosifi umum bahwa “jika anda tidak sakit anda tidak perlu ke dokter”. Orang ‘sehat’ umumnya ke dokter untuk check-up tahunan dan memperoleh sertifikat atau pernyataan sehat. Penilaian atas kesehatan seseorang adalah hasil dari pemeliharaan fisik dengan mengabaikan atau sedikit saja mempertimbangkan faktor-faktor gaya hidup seperti pola makan, kebiasaan berolahraga, ataupun , masalah-masalah pribadi, dan psikologis.
Sebaliknya, sistem pengobatan alternatif bekerja berdasarkan premis bahwa kesehatan adalah suatu proses yang dinamis. Faktor-faktor lain, mulai dari daya energi vital seseorang hingga tingkat kebahagiaannya dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya, semua masuk pertimbangan. Bahkan kepedulian beragama dan spiritualitas seserang, secara cermat diperhitungkan ketika menevaluasi kesehatan dan kesejahteraannya.
6. TERUTAMA UNTUK PENYEMBUHAN PENYAKIT KRONIS
Pengobatan konvensional menjadi pilihan utama dalam penanganan tauma dan keadaan gawat darurat. Sedangkan pengobatan alternatif lebih ampuh dalam penyembuhan penyakit kronis, meskipun homeopathy juga bisa sangat efektif sebagai sarana pertolongan pertama
7. FOKUS PADA PENCEGAHAN DAN PENYEBAB PENYAKIT
pengobatan konvensional lebih memfokuskan pada penangana gejala atau symptom, dan jarang menekankan pada pencegahan atau penenganan penyebab dari suatu keluhan. Sedangkan semua system alternative berusaha untuk menemukan dan menangani penyebab dari suatu penyakit, dan menghindari upaya menutupi gejala-gejala. Terapi alternative lebih fokus pada pencegahan penyakit sebelum menjadi parah
8. PENDEKATAN YANG HOLISTIK
pengobatan konvensional cenderung menjurus langsung kepada organ tubuh, sehingga kita mengenal para spesialis seperti ophthalamologist (dokter spesialis mata), cardiologist (dokter spesialis jantung), nephrologist (dokter spesialis ginjal), neurologist (dokter spesialis saraf), dan sebagainya. Pengobatan alternatif, tanpa kecuali, melihat setiap orang sebagai individu yang unik dan menggunakan pengobatan holistic dalam menangani pasien.
9. KEMAMPUAN TUBUH UNTUK MENGATASI PENYAKIT
pengobatan konvensional berpegang pada tindakan intervensi yang agresif untuk menangani penyakit. Hal itu tercerim dari istilah-istilah seperti peluru yang ampuh atau ajaib (magic bullet) dan perang (perang melawan kanker), dan cenderung memilih penyelesaian yang cepat (seperti juga kebanyakan pasien). Sedangkan pengobatan alternatif berpegang pada dukungan yang lebih lambat dan jangka panjang untuk memungkinkan daya tahan dari dalam tubuh sendiri melakukan penyembuhan.
10. BAHAN-BAHAN YANG ALAMI UNTUK PENGOBATAN
“Persenjataan” pengobatan konvensional terdiri dari pembedahan, kemoterapi, radiasi dan obat-obatan farmasi yang ampuh. Sedangkan pengobatan alternatif menggunakan bahan-bahan alami yang telah teruji dan penanganan berkelanjutan yang lembut.
Pengobatan konvensional umumnya menolak penggunaan pengobatan alami bahkan lama setelah kemajuan sistim ini terbukti secara ilmiah (dengan kekecualian negara jerman). Kebanyakan praktisi pengobatan alternatif dengan penuh antusias memanfaatkan cara ini dan dalam banyak hal bisa menunjukan penggunaannya yang aman selama pengalaman bertahun-tahun. Ginko biloba kini adalah obat yang paling banyak diresepkan di jerman dan terbukti efektif untuk pengobatan dan pencegahan penyakit alzheimer. Ramuan Saw Palmetto juga diresepkan di jerman untuk 90% kasus pembesaran prostat; sedang di amerika serikat 300.000 operasi prostat dilakukan setiap tahunnya untuk mengatasi keluhan yang sama. Lebih menguntungkan untuk industri kedokteran, tapi mungkin membahayakan dan tidak sejahtera untuk para pasien.
11. SETIAP PASIEN ADALAH INDIVIDU YANG UNIK
para praktisi pengobatan konvensional dalam melakukan tugasnya mengikuti pengarahan berdasarkan aturan-aturan yang ketat , yang diletakan oleh sekolah kedoteran. Hal ini sering mengarah pada pendekatan “satu cara untuk semua pasien”. Sebaliknya, para praktisi pengobatan alternatif menangani setiap pasien sebagai individu, dengan demikian dilakukan hal-hal yang menurut mereka adalah yang terbaik, bukan apa yang digariskan oleh “buku petunjuk”.
12. DASAR KONDISI SEHAT ADALAH LANCARNYA ALIRAN ENERGI
pengobatan konvensional menganggap tubuh sang pasien sebagai suatu sistem yang maksimal (jantung adalah pompa, dan ginjal adalah penyaring penyaring atau filter), dan yakin bahwa kebanyakan penyakit bisa dilacak ke arah ketidak-seimbangan kimiawi. Karena itu cara penanganan yang baik adalah juga dengan menggunakan zat kimia yang ampuh. Sistem pengobatan alternatif – hampir tanpa pengecualian – menganggap bahwa tubuh kita terdiri dari suatu jaringan saluran (meridian) yang membawa suatu bentuk energi kehidupan. Penyumbatan atau keadaan yang tidak seimbang dari pusat-pusat energi tersebut yang membawa ke kondisi sakit. Sasaran utama dari pengobatan alternatif adalah untuk membersihkan sumbatan-sumbatan dan memperkuat semua aliran energi tersebut agar sang pasien pulih kembali kesehatannya.
13. PASIEN SEBAIKNYA AKTIF DALAM UPAYA PENYEMBUHAN SENDIRI
pengobatan konvensional lebih menyukai pasien yang bersikap pasif dan menerima tindakan pengobatan tanpa terlalu banyak bertanya. Sebaliknya, pengobatan alternatif lebih menyukai dan dalam banyak kasus menghendaki pasien mengambil bagian yang aktif dalam pencegahan dan penanganan penyakit yang di deritanya.
14. LEBIH MEMEGANG PRINSIP FIRST DO NO HARM
baik pengobatan konvensional maupun alternatif kedua-duanya berpegang pada prinsip “tidak boleh melukai dalam menjalankan tindakan pengobatan” (first do no harm). Namun dalam prakteknya pengobatan konvesional seakan-akan melupakannya. Hans R. Larsen, M. Sc Ch. E, direktur internasional Health News and The AFIB Report yang berpusat di Vancouver, Canada, dalam edisi ke-93/ September 1999 International Health News melaporkan: pembunuhan terbesar ketiga di Australia adalah rumah sakit, dan lebih dari satu juta orang menderita secara serius di rumah sakit Amerika Serikat setiap tahunnya. Keracunan darah yang terjadi di rumah sakit menyenbabkan 62.000 kematian, bedah bypass berakibat dengan 25.000 penderita stroke, dan dua juta pasien menderita reaksi obat yang berlebihan di rumah sakit Amerika setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, lebih dari 200.000 meninggal dunia. Ini menjadikan reaksi obat yang berlebihan di rumah sakit sebagai penyebab kematian keempat setelah sakit jantung, kanker dan stroke.
15. PERHATIAN YANG LEBIH PENUH PADA PASIEN
praktik pengobatan konvensional sangat terkait secara kuat dengan industri obat farmasi, yang prioritas utamanya adalah pencapaian keuntungan usaha. Meskipun kebanyakan dokter konvensional berusaha berpegang pada prioritas “menyembuhkan pasien”, namun hal ini makin sulit dalam prakteknya karena mereka bekerja dalam sistem farmasi yang sarat dengan salesman, aturan-aturan menurut buku, ketakutan akan tuntutan malpraktek, tumpukan paperwork untuk memnuhi keinginan birokrasi dan perusahaan asuransi, dan tekanan waktu dari antrean para pasien. Sementara itu, kebanyakan praktisi pengobatan alternatif saat ini belum menghadapi kendala dan tekanan semacam ini, dan masih lebih bisa memberikan perhatian penuh kepada pasien-pasien mereka.
referensi :
Hadibroto, Iwan dan Syamsir Alam. 2006. Seluk Beluk Pengobatan Alternatif dan Komplementer. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer


